Sabtu, 16 Januari 2016

Kasus Sengkon dan Karta

Kasus Kasus Sengkon Karta
 Hasil gambar untuk kasus sengkon dan karta

Mahkamah Konstitusi kembali mengubah sistem hukum di Indonesia. Putusan yang mengabulkan judical review pasal 268 ayat 3 KUHAP tentang Peninjauan Kembali (PK) bagi terpidana bisa lebih dari satu kali menjadi gonjang-ganjing baru dari sistem hukum di Indonesia.

Ada yang mendukung putusan ini namun tidak sedikit yang mengkritik. Bahkan mantan Ketua MK Mahfud MD menyebut bahwa putusan ini membuat dunia hukum di Indonesia kacau balau karena tidak ada kepastian hukum.

"Putusan MK itu dapat mengacaukan dunia hukum karena beberapa hal, pertama, dengan pembukaan pintu bagi PK di atas PK itu kepastian hukum menjadi hilang karena orang yang sudah dihukum masih bisa dianggap belum bersalah," kata Mahfud beberapa waktu lalu.

Putusan MK ini pun kembali membuat publik teringat dengan kasus Sengkon dan Karta. Kasus Sengkon Karta ini merupakan sejarah titik balik lahirnya Peninjauan Kembali (PK) dalam sistem hukum di Tanah Air.

Kasus ini bermula dari sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman dan Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi pada tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menangkap Sengkon dan Karta. Keduanya lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus perampokan dan pembunuhan sadis itu.

Sengkon dan Karta dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Namun karena merasa tak melakukan tuduhan yang dimaksud, Sengkon dan Karta menolak menandatangani berita acara pemeriksaan.

Keduanya lalu disiksa oleh penyidik. Lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah dan meneken BAP.

Hakim Djurnetty Soetrisno pun lebih mempercayai cerita polisi daripada bantahan Sengkon dan Karta di pengadilan. Di bulan Oktober 1977, Sengkon akhirnya divonis penjara selama 12 tahun, sedangkan Karta divonis lebih ringan yakni 7 tahun. Putusan itu lalu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Namun kebenaran memang selalu pihak kepada mereka yang benar. Dalam dinginnya penjara, Sengkon dan Karta bertemu dengan Genul yang masih terhitung keponakan Sengkon. Genul sendiri sudah lebih dulu masuk penjara Cipinang lantaran kasus pencurian.

Di dalam penjara itulah Genul akhirnya membuka rahasia dan mengakui bahwa dirinyalah yang merampok dan membunuh Sulaiman dan Siti. Pengakuan ini pun kemudian menjadi bukti baru. Di bulan ada Oktober 1980, Gunel akhirnya dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Namun bobroknya sistem hukum membuat Sengkon dan Karta tetap mendekam di penjara meski pembunuh aslinya sudah divonis. Karena tidak mengajukan banding, vonis kepada Sengkon dan Karta dianggap telah berkekuatan hukum tetap.

Beruntung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur Peninjauan Kembali. Inilah untuk pertama kalinya PK diakui dalam sistem peradilan di Indonesia.

Namun meski sudah bebas, nasib keduanya juga masih terasa pahit. Keluarga Karta kocar-kacir sejak dirinya dibui dengan tuduhan pembunuhan dan perampokan. Rumah dan tanahnya seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, juga ludes untuk membiayai perkaranya.

Sengkon juga mengalami nasib yang tak jauh beda. Kondisi kesehatannya terus menurun setelah keluar dari penjara karena mengalami TBC. Sebidang tanah yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan.

Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.

Sengkon dan Karta juga sempat mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977.

Tuhan rupanya berkendak lain. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal tak lama dari Karta karena sakit yang dia derita. Hanya kepada Tuhan keduanya bisa mengadu tentang ketidakadilan yang menimpanya.

Berangkat dari kasus Sengkon dan Karta inilah kemudian muncul PK. Namun dalam aturan pasal 268 ayat 3 KUHAP, PK hanya boleh diajukan satu kali. Hal ini lah yang kemudian membuat mantan Ketua KPK Antasari Azhar mengajukan judicial review atas pasal tersebut.

MK lalu mengabulkan gugatan Antasari. Dalam putusannya Kamis pekan lalu, MK berpendapat bahwa negara tidak boleh membatasi hak konstitusional warga untuk mendapat keadilan. Pengaturan bahwa PK hanya boleh diajukan satu kali dianggap MK bertentangan dengan konstitusi.

Putusan MK ini pun kini menjadi babak baru dalam gonjang-ganjing sistem hukum di Indonesia. Ada yang menyebut bahwa putusan ini mengacaukan sistem hukum karena mendobrak kepastian hukum. Dengan PK boleh berkali-kali, maka aspek legalitas menjadi hilang terhadap suatu putusan hukum yang sudah tetap atau inkracht.

Di sisi lain, putusan ini tetap dipandang sebagai terobosan hukum untuk mengakomodir para pencari keadilan yang tetap tidak puas dengan putusan PK yang dinilai 'sakit'. Namun perlu ada syarat untuk membatasi agar tidak semua perkara bisa diajukan PK berkali-kali. Syarat inilah yang menjadi PR bagi DPR dalam revisi RUU KUHAP.

Jumat, 15 Januari 2016

tokok tokoh filsafat dan pemikiran


1.Plato
  
Riwayat Hidup.

       Plato adalah seorang filsuf Yunani yang berasal dari Athena. Ia mendirikan sebuah sekolah di tempat asalnya yang diberi nama “Akademia”. Sokrates menilai Plato sebagai muridnya yang termasyur. Dari sebab itu, pemikiran Plato dalam seminar-seminarnya selalu diikuti oleh Sokrates. Plato berasal dari keluarga aristokrat, yakni politikus besar Athena. Cita-cita besar Plato adalah mengajarkan filsafat kepada semua orang, terutama kepada orang-orang muda. Keinginan itu mendorong dia untuk mendirikan perguruan tinggi yang pertama, yang boleh dianggap sebagai pelopor lahirnya universitas-universitas pada Abad Pertengahan dan zaman modern.

Karya Karya Tulis. 

 1.   Otentisitas
      Surat-surat ini merupakan dokumen-dokumen utama yang utama yang masih dimiliki. Sekarang ini kebanyakan sejarawan menerima surat VI, VII,dan VIII sebagai otentik. Otentisitas Surat I secara umum ditolak dan Surat XII sangat diragukan. Namun, semua itu merupakan dokumen-dokumen utama yang kita miliki mengenai riwayat hidup Plato.

 2.   Kronologi 
       Apabila kita berhasil menentukan suatu urutan kronologis bagi karangan-karangan Plato, mungkin terbuka jalan untuk menyelidiki apakah terdapat suatu perkembangan dalam pemikiran Plato, sebab jika urutan kronologis itu tidak dapat dipastikan, penyelidikan mengenai perkembangan  dalam pemikiran Plato tidak mempunyai dasar yang teguh dan tidak dapat melebihi dari taraf dugaan saja. Dengan menyelidiki secara terperinci gaya bahasa yang digunakan dalam dialog-dialog Plato, para sarjana menentukan bahwa sekelompok dialog (Sophistês, Politikos, Philebos, Timaios, Kritias, Nomoi) telah dikarang dalam periode lain daripada dialog-dialog lain. Keenam dialog ini disimpulkan, ditulis Plato dalam periode terakhir hidupnya.

 Pemikiran  
 
        Sebagian besar orang mengatakan bahwa filsafat itu sangat susah dan sulit, namun demikian orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa keseharian mereka di isi dengan filsafat, atau bisa dikatakan mereka telah berfilsafat dalam kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari, karena pemahaman mereka tentang filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum tau tentang filsafat itu apa.
           Orang-orang terdahulu hingga sekarang, yang mencintai filsafat atau para filosof mengartikan filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan, sehingga ketika berfilsafat berarti mereka telah mencintai kebijaksanaan, namun bukan berarti merasa dirinya sudah benar. Cinta kebijaksaan berarti akan selalu mencari bagaimana mendapatkan kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai tentulah ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut.


2. Aristoteles

Riwayat Hidup

            Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia.Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato.[2] Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia.
            Saat Alexander berkuasa pada tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM.Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami Socrates.[butuh rujukan] Aristoteles meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut.Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.

Karya Tulis  
 
         Di dalam banyak aspek,Aristoteles berbeda dengan pendahulunya. Dia adalah orang pertama yang menulis sebagai seorang professor. Tulisannya di susun secara sistematis terperinci di dalam subrukrik – subrukrik. Di samping sebagai guru, deorang periset. Ekspresi – ekspresinya kritis, hati – hati, prosains, tanpa mengesankan ento siasisme diorisus. Karyanya tentang ilmu alam, memberikan informasi cukup tentang astronomi, meteorology, tumbuh – tumbuhan dan binatang – binatang.
        Tulisan Aristoteles tentang sifat, lingkup, da nisi kehidupan, yang olehnya di sebut filsafat ( prote philoshopia ) yang di beri judul Metafisika pada publikasi pertama dari penerbitan karya – karyanya. Kira – kira tahun 60 SM. Pada penerbitan pertama itu juga termasuk karya Aristoteles fisika yang di persembahkan untuk anaknya, Nikomakus. Dia tampilkan karyan tentang etika, yang olehnya diberi judul etika nikomakean. Karya – karya Aristoteles yang lain termasuk retorika, poesi dan politik. Sebenarnya dia tidak banyak menghasilkan karya – karya hasil penelitian dan pemikiran – pemikiran filsafat. Tapi sayang banyak karyanya yang hilang.
        Di antara karyanya yang di kenal adalah anganan ( logika ), priar analytics ( silogisme ), pasteriar analytics ( sains ) dan lain sebagainya. Dari karya – karyanya dapat di ketahui tentang pandangan – pandangan dia tentang beberapa persoalan filsafat.

Pemikiran  

        Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.
        Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam.
      Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis).Pemikiran lainnya adalah tentang gerak di mana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis.Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak di mana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti TuhanLogika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal.Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).

3.Socrates 

Riwayat hidup

          Socrates[2] diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.
         Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates. Nama  Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.[3]
       Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates.
  Karya Tulis

       Ilmu pengetahun pada era Yunani kuno mengalami kemunduran serta tanggung jawab manusia yang melemah karena pengaruh negatif para filosof aliran sofisme. Berawal dari hal itu muncul keprihatinan moral dari para filosof yang selanjutnya  membangun pondasi falsafahnya sehingga kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Berbagai pandangan filosof Yunani merupakan motivasi kuat untuk membangkitan kembali ilmu pengetahuan yang telah semakin lemah dan dangkal oleh pengaruh filsafat kaum sofis yang merelativitaskan segala sesuatu.
      Meskipun ada tokoh-tokoh sebelumnya, filosof pada zaman Yunani kuno berawal dari socrates, dia dilahirkan di Athena pada tahun 470 S.M. Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur mempunyai kearifan dan kebijaksanaan. Masa Socrates bertepatan dengan masa kaum sofis. Oleh karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis bahkan ada orang yang memasukkan Socrates kedalam golongan kaum sofis. Tetapi ini tidak benar, karena ada perbedaan yang nyata antara pendapat Socrates dan pendapat kaum sofis itu.

Pemikiran 

          Kaum sofis hidup sejaman dengan Socrates, dan memang ada kesamaan pendapat diantara keduanya itu. Menurut Cicero, Socrates memindahkan filsafat dari langit ke bumi, artinya sasaran yang diselidiki bukan lagi jagat raya, melainkan manusia. Akan tetapi bukan hanya Socrates yang membuat demikian, kaum sofis juga. Mereka juga menjadikan manusia sasaran pemikiran mereka. Itulah sebabnya Aristophanes menyebut Socrates seorang sofis. Sekalipun demikian ada perbedaan yang besar antara Socrates dan kaum sofis. Filsafat Socrates adalah suatu reaksi dan suatu kritik terhadap kaum sofis. Sebutan “sofis” mengalami perkembangan sendiri. Sebelum abad ke-5 istilah itu berarti: sarjana, cendekiawan. Pada abad ke-4 para sarjana atau cendekiawan bukan lagi disebut “sofis”, tetapi “filosofis”, filsuf, sedang sebutan “sofis” dikenakan untuk para guru yang berkeliling dari kota ke kota untuk mengajar. Akhirnya sebutan “sofis” tidak harum lagi, karena seorang sofis adalah orang yang menipu orang lain dengan memakai alasan-alasan yang tidak sah. Para guru berkeliling itu dituduh sebagai orang-orang yang minta uang bagi ajaran mereka.
         Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyangkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Kaum sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu        Socrates dapat membuktikan kepada kaum sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi itu sendiri. Jadi, kaum sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relatif. Seperti contoh berikut: apakah kursi itu? Orang bisa periksa seluruh kursi, kalau bisa seluruh kursi yang ada dunia ini. Misalnya kursi hakim terdiri dari tempat duduk dan sandaran, berkaki empat, dari bahan kayu jati.
         Kedua, kursi malas, terdiri dari tempat duduk, sandara dan berkaki empat, terbuat dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi dapat diambil kesimpulah bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan ciri yang lain tidak dimiliki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Contoh tersebut merupakan kebenaran obyektif – umum, tidak subyektif – relatif. Tentang jumlah kaki, bahan, ukuran, dsb. Merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan umum, itulah definisi.

4.Cicero

Riwayat Hidup 


         Cicero (di Inggris dijuluki "Tully") (lahir 3 Januari 106 SM - meninggal 7 Desember 43 SM) adalah filsuf, orator yang memiliki keterampilan handal dalam retorika, pengacara, penulis, dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa.[1][2][3][4]
Cicero merupakan tokoh besar mazhab filsafat Stoa yang populer pada abad 4 SM (Sebelum Masehi) sampai abad 2 M (Masehi), dan ia merupakan salah satu tokoh pada periode akhir yang lebih terkenal dengan sebutan Stoa Romawi.[5] Selain itu, ia dan pemikirannya juga dianggap dekat dengan aliran Platonisme dan Epikureanisme.[2] Pemikirannya banyak dirujuk dalam pemikiran hukum dan tata negara, serta pemikiran filsafat lainnya.[5] Salah satunya adalah David Hume pada abad 18.[5]
         Karya dan pemikiran Cicero juga dikagumi oleh beberapa Bapa Gereja Latin yang berpengaruh seperti Santo Agustinus dari Hippo, yang mengatakan bahwa karyanya Hortensius merupakan salah satu pendorong beralihnya ia kepada Kekristenan,[6] dan St. Hieronimus yang mengalami kegelisahan karena mendapat penglihatan bahwa ia dituduh sebagai "pengikut Cicero dan bukannya Kristus" saat pengadilan khusus.[7]
           Cicero dikenal sebagai negarawan yang berusaha menegakkan prinsip-prinsip republik dalam perang sipil, kegagalannya menyebabkan perang sipil yang menghancurkan Republik Romawi.[3] Tulisan-tulisannya meliputi retorika, pidato, risalah filsafat dan politik, dan surat-surat.[3]

Karya Tulis 


         Cicero merupakan pembaru bahasa Latin terbesar di zamannya.[1] Karya filsafatnya sangat terkenal dan berpengaruh, di antaranya adalah yang tertuang dalam pidato-pidatonya yang berjumlah 57 tulisan, selain 17 fragmen lain.[1] Kemudian karya-karya filsafat, retorika, dan surat-surat tercatat berjumlah ± 800 buah dan tersimpan baik hingga saat ini.[1][15] Pada sumber lain tercatat bahwa pada Juli 43 SM, lebih dari 900 tulisan diselamatkan, 835 ditulis oleh Cicero sendiri, 416 dialamatkan kepada sahabatnya, seorang ksatria bernama Pomponius Atticus, dan 419 kepada 94 orang lain, baik kerabat maupun kenalannya.[4] Beberapa surat tidak dapat dilacak, salah satunya suratnya kepada Pompeius yang disebutkan dalam Pro Sulla dan Pro Plancio yang merupakan surat berisi konspirasi Lucius Sergius Catilina.[4] Kemudian, terdapat juga empat koleksi surat-surat Cicero yang dialamatkan kepada Atticus dalam 16 buku, kepada kenalan dan saudaranya yang berjumlah 16 buku, kepada Brutus yang berjumlah 3 buku, dan kepada saudaranya berjudul Ad Quintum Fratem.[4]
        Selain karya-karya tentang filsafat dan tulisan yang terkait politik, sebagai penyair, Cicero diketahui menerbitkan puisi-puisi berbahasa Latin, di antaranya adalah: epos berjudul de Consulatu Suo (Inggris: On His Consulship) dan de Temproribus Suis (Inggris: On His Life and Times), yang merupakan tulisan yang dipakainya untuk mengkritik kekunoan tradisi penyembahan masyarakat Romawi pada zamannya.[4] Cicero sendiri menolak untuk disebut sebagai salah satu tokoh dari salah satu aliran-aliran seni kala itu, entah sebagai seniman dalam kelompok orang-orang Asia yang rata-rata kaya dan tampil secara berlebihan, atau kelompok yang diwakili oleh Quintus Hortensius, maupun mereka yang menyebut diri sebagai Atticist, misalnya Julius Caesar dan Brutus.[4] Adapun karya bergenre humor yang ditulis Cicero yang memuat prinsip-prinsip Stoanya berjudul Pro Murena, yang merupakan sebuah karya yang mendiskreditkan Cato yang berpihak kepada para pengacara yang menyerang Clodia.[4] Karya tersebut termuat dalam pidato berjudul Pro Caelio yang dibawakan Cicero pada 4 April 56 SM.

 Pemikiran
         Cicero menyebut dirinya seorang filsuf dari Akademi (Platonis).[4] Namun hal tersebut diragukan oleh banyak pihak terkait karya-karyanya yang kontradiktif dan tidak murni.[4] Dalam hal etika, Cicero cenderung memakai prinsip dogmatis Stoa yang sangat dipengaruhi Socrates.[4] Dalam beragama, Cicero dapat dikatakan nyaris agnostik, walaupun dia memiliki pengalaman religius mendalam, yaitu ketika ia berkunjung ke Eleusis, pada saat kematian saudarinya, Tullia pada tahun 45 SM.[4] Sebagai penulis, ia memosisikan diri sebagai seorang ateis, kecuali dalam karyanya yang berjudul Somnium Scipionis (mimpi-mimpi Scipio) berisi luapan perasaan religius, tepatnya terdapat pada bagian akhir de Republica.[4]
        Sebagai seorang filsuf, Cicero mulai serius menulis karya-karya filsafatnya pada tahun 54 SM.[4] Karya awalnya berjudul de Republica dan diikuti de Legibus pada tahun 52 SM.[4] Tulisan tersebut berisi tafsiran tentang sejarah Romawi yang diteropong dengan sudut pandang teori politik Yunani.[4] Dalam kondisi politik yang carut-marut dan yang membuat setiap orang menderita, yaitu ketika perang sipil terjadi, perang yang juga merenggut nyawa saudari tercintanya[4]), Cicero mencurahkan seluruh energinya demi menghibur diri atas duka dengan aktivitas menulis secara radikal.[12] Banyak karya yang ia selesaikan selama dua tahun masa kehilangan tersebut, di antaranya ialah

5 Julius cesar

Riwayat Hidup

        Julius Caesar (Latin: C·IVLIVS·C·F·C·N·CAESAR¹) (13 Juli 100 SM15 Maret 44 SM) adalah seorang pemimpin militer dan politikus Romawi yang kekuasaannya terhadap Gallia Comata memperluas dunia Romawi hingga Oceanus Atlanticus, melancarkan serangan Romawi pertama ke Britania, dan memperkenalkan pengaruh Romawi terhadap Gaul (Perancis kini), sebuah pencapaian yang akibat langsungnya masih terlihat hingga kini.
Julius Caesar bertarung dan memenangkan sebuah perang saudara yang menjadikannya penguasa terhebat dunia Romawi, dan memulai reformasi besar-besaran terhadap masyarakat dan pemerintah Romawi. Dia menjadi diktator seumur hidup, dan memusatkan pemerintahan yang makin melemah dalam republik tersebut.
        Caesar meninggal dunia pada 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus dan beberapa senator Romawi. Aksi pembunuhan terhadapnya pada hari Idi Maret tersebut menjadi pemicu perang saudara kedua yang menjadi akhir Republik Romawi dan awal Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaan cucu lelaki dan putra angkatnya, Kaisar Augustus.
Kampanye militer Julius Caesar diketahui secara mendetil melalui tulisannya sendiri Kumpulan Komentar (Commentarii), dan banyak dari kisah hidupnya yang direkam sejarawan seperti Gaius Suetonius Tranquillus, Mestrius Plutarch, dan Lucius Cassius Dio.

Karya Tulis dan pemikiran nya 

       Gelaran Piala Dunia 2014 ini dipastikan menjadi akhir dari dedikasi kiper Julio Cesar berbarengan dengan timnas Brasil. Kiper yang kini berumur 34 tahun tersebut untuk mengambil keputusan gantung sepatu memperkuat Tim Samba.
Untuk Cesar sendiri bakal menutup karir di kancah internasional dengan cerita yang sangat menyedihkan.       Cesar diketahui tidak berhasil untuk mengantar Brasil yang menjadi tim tuan rumah di Piala Dunia untuk menjadi jawara.
      Diluar itu, Brasil juga tidak berhasil untuk merebut tempat ketiga paska menelan kekalahan telak 0 – 3 atas Belanda, Sabtu (12/7) lalu. Walaupun begitu, Cesar mengaku bangga lantaran sudah memberikan yang paling baik di sepanjang karirnya bermain untuk timnas Brasil.
“Bermain di Copa America pada tahun 2015 ketika berumur 35 tahun, tentu bakal menjadi hal yang sangat rumit. Ada di kompetisi itu dengan tak mempunyai pemikiran bermain di gelaran Piala Dunia 2018 menjadi suatu pemikiran saya yang egois.” beber Cesar pada laman resmi FIFA.
     “Saat ini menjadi giliran untuk penjaga gawang yang lain, serta kupikir, Brasil sendiri sebenarnya mempunyai tujuh sampai delapan penjaga gawang yang layak untuk kenakan kostum timnas.” tandasnya.
Cesar sendiri bakal segera kembali dengan tim aslinya Queens Park Rangers untuk kompetisi musim depan setelah dipastikan pada musim kemarin pemain ini dipinjamkan untuk tim Major League Soccer, Toronto FC.

6 .Brutus

          Marcus Junius Brutus Caepio (85-42 SM), yang lebih dikenal sebagai Brutus, adalah seorang Senator Kota Roma (bahasa Latin: Senatus/senex yang artinya orangtua, yakni majelis perundingan kerajaan) pada akhir Republik Roma dan merupakan salah seorang pembunuh Gaius Julius Caesar (100-44 SM). Dengan penuh ironi, Brutus bersama teman-temannya sesama senator, merencanakan pembunuhan atas diri Julius Caesar. Brutus dan orang-orangnya berhasil membunuh sang kaisar dalam pembunuhan dramatik yang terjadi pada 15 Maret 44 SM yang kemudian mencetuskan perang saudara di Republik Roma. Brutus kemudian diadili oleh Senatus sebagai “pengkhianat” kerajaan.
          Pada mulanya Brutus bersama senator yang lain merasa tidak puas melihat situasi dan kondisi Republik Roma di bawah kepemimpinan Julius Caesar. Sang kaisar telah menjadi diktator besar sepanjang hayat dengan menerbitkan sejumlah undang-undang yang mengukuhkan kedudukan dan kekuasaannya. Brutus yang mulanya adalah sahabat seperjuangan dan teman dekat Caesar, juga telah dihasut tentang kemungkinan Julius Caesar ditahbiskan menjadi Raja Roma dan kembalinya sistem “monarki absolut” di Republik Roma. Para senator, yang konon berjumlah 23 orang dihasut untuk membunuh sang kaisar. Brutus pun terprovokasi hasutan temannya yang memiliki rasa dengki, cemburu, dan hawa nafsu untuk meraih kedudukan dan kekuasaan dari tangan Julius Caesar. Dia sangat memercayai cerita dan gosip murahan tentang Caesar, walaupun pada 15 Februari 44 SM dalam satu upacara umum, Caesar enggan menerima diadem (lambang monarki kuno) dari Marcus Antonius (83-30 SM), ahli politik dan jenderal Roma serta orang kepercayaan Caesar.
        Ada dengki, jealous , dan perasaan tidak senang lainnya bercampur aduk dalam diri di antara orang-orang di sekitar “ring satu” Republik Roma. Dan, Brutus pun mulai berkomplot dengan sahabat dan adik iparnya, Gaius Cassius Longinus (85-42 SM), serta orang lain di antara mereka dengan menyebut kelompoknya sebagai Liberatores (pembebas).
Sekumpulan senator yang menentang kepemimpinan Julius Caesar merencanakan untuk menjemput sang kaisar ke suatu forum majelis perundingan kerajaan, untuk dipaksa membaca petisi palsu yang ditulis para senator itu. Petisi tersebut meminta Julius Caesar mengembalikan mandat kekuasaannya kepada Senatus . Ketika mengetahui akal bulus dan siasat para senator pengkhianat itu, Marcus Antonius mencoba menghalangi sang kaisar di tangga forum untuk mengabaikan tuntutan para senator pembelot. Akan tetapi, para senator itu berhasil menghalangi Caesar ketika hendak melewati Teater Pompey dan menggiringnya ke sudut ruangan yang bersebelahan dengan porsio timur.
Nasib Caesar tampaknya telah ditetapkan berakhir tragis. Ia berada di tengah lingkaran para “pengkhianat” (yang selanjutnya disebut “Brutus”) dan di antara para senator yang terdiri dari 60 orang dengan pisau belati yang tersembunyi di balik toga kebesaran Senatus Republik Roma. Kedengkian, kebencian, dan jealous tak tepermanai telah merasuk darah para negarawan Roma ini. Hasrat meraih kekuasaan dan hawa nafsu mereka tak terbendung. Keinginan untuk segera menggenggam kekuasaan telah “membutatulikan” logos para Senatus
            Para pengkhianat atau “komplotan Brutus” ini kemudian kalap. Saat Julius Caesar sedang membaca dokumen petisi palsu di atas mimbar, salah seorang senator bernama Publius Servilius Casca menarik lengan sang kaisar, lalu menikam lehernya dengan sebilah belati. Tindakan Senator Casca membunuh Caesar ini kemudian diikuti oleh sekitar 23 senator lainnya yang berkomplot melakukan coup d’état . Sang kaisar mencoba menghindar dan meloloskan diri dari percobaan pembunuhan. Namun sayang, ia terhempas jatuh berlumuran “darah pengkhianatan”. Dia tersandung jatuh, tanpa daya, karena tikaman belati bertubi-tubi ke sekujur tubuh kekarnya. Dan dia pun ambruk ke lantai ruang majelis perundingan kerajaan yang tak jauh dari singgasana Republik Roma. Julius Caesar kemudian dibunuh para “Brutus” ketika terbaring tanpa daya untuk mempertahankan diri. Sang pahlawan legendaris Republik Roma ini menghembuskan nafas terakhirnya di bawah patung Pompey, di tempat yang terhormat dengan penuh kemuliaan.
            Di saat terakhir Julius Caesar menarik nafas kehidupannya, ia masih sempat berkata simpatik kepada sahabatnya, Brutus sang pengkhianat: “ Tu quoque, Brute, fili mi ” (Engkau juga, Brutus, anakku?) atau “ Et tu, Brute ” (Dan engkau [juga], Brutus?). Caesar sadar (di saat-saat terakhirnya), bahwa sahabat karibnya telah mengkhianatinya secara sadis! Dalam drama berjudul Julius Caesar karya William Shakespeare (1564-1616), Suetonius menyatakan bahwa Julius Caesar berkata dalam bahasa Yunani, yang ditransliterasikan sebagai “ Kaí sú, téknon ?” (Engkau juga, anakku?).
            Setelah tragedi pembunuhan itu, para senator meninggalkan gedung majelis seraya bertindak seperti demagog, dan Brutus bersorak kepada masyarakat Kota Roma, “Hai rakyat Roma, kita bebas sekali lagi!” Di saat yang sama, mayat Caesar yang membujur kaku di ruang majelis diangkat para abdi istana untuk diserahkan kepada sang istri terkasih, Calpurnia. Brutus lalu mendapat atribut dalam sebuah frasa “ Sic semper tyrannis! ” ( Thus always to tytants! ), untuk pendengki dan pengkhianat, selamanya.
Akibat kematian Caesar, para konspirator berkuasa dan menaklukkan provinsi-provinsi di Timur. Sementara itu mereka membiarkan tiga rekan dekat Caesar memerintah di Barat. Tiga orang ini adalah Marcus Antonius atau Mark Antony, seorang jenderal; Octavianus, keponakan Caesar yang masih berusia 19 tahun; dan Lepidus. Setelah mengumpulkan kekuatan, mereka menyerang para Republikan di Timur, dan berhasil menang di Filipi (42 SM). Setelah mengambilalih kekuasaan, mereka membagi-bagi wilayah: Octavianus di Barat termasuk Italia, Marcus Antonius di Timur termasuk Mesir, dan Lepidus di Afrika Utara selain Mesir.

7.Ibnu rusyd 

Riwayat Hidup.
 
       Ibnu Rusyd atau dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).  Dia adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa.

       Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja / Bajjah.

        Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Karya Tulis 

         Karangan Ibnu Rusyd yang lainnya meliputi berbagai ilmu, seperti : fiqh, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar  yang telah ditulisnya. Buku-bukunya ada kalanya merupakan karangan sendiri atau ulasan atau ringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatian yang besar terhadap untuk mengulas dan meringkas filsafat Aristoteles.
Ibnu Rusyd banyak mengarang buku, tetapi yang asli berbahasa Arab dan sampai ke tangan kita sekarang hanya sedikit, diantaranya adalah buku-buku tentang filsafat seperti :
  1. Tahafut al-Tahafut.
  2. Risalah fi Ta’alluqi ‘Ilmillahi ‘an ‘Adami Ta’alluqihi bi al-Juziyat.
  3. Tafsiru ma ba’da ath-Thabiat.
  4. Fashl al-Maqal fi ma baina al-Himaah wa asy-Syari’ati min al-Ittishal.
  5. Al-Kasyfu ‘an Manahij al-‘Adillah fi ‘Aqaidi Ahl al-Millah.
  6. Naqdu Nazhariyat Ibnu Sina ‘an al-Mu’min lidzatihi wa al-Mu’min lighairih.
  7. Risalah fi al-Wujud al-Azali wa al-Wujud al-Mu’aqqat.
  8. Risalah fi al-‘Aqli wa al-Ma’qul.
Pemikiran 

             Sebagai komentator Aristoteles tidak mengherankan jika pemikiran Ibnu Rusyd sangat dipengaruhi oleh filosof Yunani kuno. Ibnu Rusyd menghabiskan waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles, dan berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Di Eropa latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre d’Aphrodise (filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius.[6]

          Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof muslim sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat Aristoteles, walaupun dalam beberapa persoalan filsafat ia tidak bisa lepas dari pendapat dari kedua filosof muslim tersebut. Menurutnya pemikiran Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa komentator-komentator Alexandria. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dianggap berjasa besar dalam memurnikan kembali filsafat Aristoteles. Atas saran gurunya Ibnu Thufail yang memintanya untuk menerjemahkan fikiran-fikiran Aristoteles pada masa dinasti Muwahhidun tahun 557-559 H.[7]

         Namun demikian, walaupun Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles bukan berarti dalam berfilsafat ia selalu mengekor dan menjiplak filsafat Aristoteles. Ibnu Rusyd juga memiliki pandangan tersendiri dalam tema-tema filsafat yang menjadikannya sebagai filosof Muslim besar dan terkenal pada masa klasik hingga sekarang.

7.Solon  

Riwayat Hidup.

       Solon adalah anggota keluarga Jhee, sebuah keluarga bangsawan yang kuat dulu di dalam Kerajaan Highland. Dia cepat naik melalui pangkat militer Angkatan Darat Highland karena statusnya. Setelah Luca Blight berbakat posisi komando Panglima-in-Kepala Angkatan Darat Highland, Solon Jhee diberikan Angkatan Darat Highland 4 dan memimpin serangan awal Highland melawan Jowston di 460.
        Meskipun ia telah beberapa sukses awal terhadap pasukan Jowston siap (dan bahkan kemudian ditolak dua kali sebelum akhirnya kemenangan, sekali pada Viktor’s benteng dan lagi luar Muse), akhirnya mengambil     SelatanWindow dan memerintahkan pemenggalan kepala Granmeyer meskipun menyerah damai itu, kurangnya hati-hati dan kepala panas sering ditempatkan dia dalam situasi genting.
         Akhirnya, peruntungannya berlari keluar ketika ia menyerang benteng tua di North Window. Tidak memiliki pengalaman dengan pertempuran laut, Jhee tidak faktor kemungkinan yang diapit. Tentu saja, ini persis apa yang terjadi, dengan unit yang dipimpin oleh Riou tiba dengan kapal dan hampir sekitar Jhee sebelum ia mundur, menyebabkan banyak tentara Selatan Window bawah kontrol Highland untuk mengubah sisi.
        Setelah kekalahan ini bencana, Solon Jhee gagal untuk menenangkan kemarahan Luca Blight dan diperintahkan untuk segera dipenggal.

Karya Tulis  Dan Pemikiran 


      Negara-kota yang paling masyhur adalah Athena. Tahun 507 SM, Athena menganut sebuah sistem pemerintahan kerakyatan yang berlangsung kira-kira dua abad lamanya. Sampai akhirnya, Athena tahun 321 SM tunduk di bawah kekuasaan Macedonia selama beberapa generasi, dan berikutnya tunduk lagi di bawah kekuasaan Romawi.
        Di antara banyak negara demokrasi di Yunani, Athena memang yang paling penting, dan terkenal, saat itu dan saat ini. Pengaruhnya cukup besar bagi perkembangan filsafat politik, terutama terkait dengan sebuah aspek penting demokrasi, yakni partisipasi warga.
Pemerintahan Athena itu rumit, dan amat rumit, begitu kata Robert A Dahl. Pada intinya, pemerintahan Athena adalah sebuah majelis di mana seluruh warga negara-kota berhak ikut serta. Sebuah majelis memiliki beberapa orang pejabat utama, misalnya beberapa orang jenderal. Untuk memilih seorang pejabat utama, warga Athena mengadakannya melalui suatu undian dengan syarat bahwa semua warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih apabila memenuhi syarat. Seorang warga negara biasa sekalipun memiliki peluang untuk menjadi pejabat utama, jika memenangkan undian, dan akan memegang jabatan tinggi yang penting dalam pemerintahan.
        Begitu pula yang terjadi di Roma yang terletak di semenanjung Italia. Praktik demokrasi mula-mula yang terjadi di sini kira-kira sama waktunya dengan yang terjadi di Yunani. Kalau orang Yunani menyatakannya sebagai polis atau negara-kota, orang Romawi menyebut sistem pemerintahan mereka sebagai republik. Maknanya, res dalam bahasa Latin berarti kejadian atau peristiwa, dan publicus berarti publik atau masyarakat. Jika dimaknai secara bebas maka kata ’republik’ itu adalah ’sesuatu yang menjadi milik rakyat’.
         Mula-mula, hak untuk ikut memerintah dalam sistem pemerintahan yang disebut Republik di Romawi ini hanya terbatas pada golongan bangsawan (patricia) atau kaum aristokrat saja. Namun dalam perkembangannya, setelah didahului dengan perjuangan yang hebat, rakyat biasa (pleb atau kaum miskin, rakyat jelata) juga dapat masuk ke dalamnya.
Persamaan yang terjadi dalam demokrasi di Athena maupun di Romawi adalah bahwa hak untuk berpartisipasi dalam politik hanya terbatas pada kaum laki-laki saja!
          Dalam perjalanan sejarah yang berlainan, jika Athena pada akhirnya takluk di bawah Macedonia, dan juga Roma di kemudian hari, justru Romawi adalah sebuah negara yang kuat. Dengan kekuatan yang dimaklumi, kegiatan eksternal Romawi adalah melakukan penaklukan dan pencaplokan wilayah. Pada akhirnya Roma yang semula adalah sebuah kota yang tidak begitu besar ukurannya lalu menjadi negara yang luar biasa besarnya. Republik Roma itu akhirnya memerintah seluruh kawasan di Italia.
         Dalam setiap penundukan suatu wilayah, Republik selalu memberikan kewarganegaraan Romawi kepada setiap penduduk wilayah jajahannya. Seringkali hal ini justru merupakan sesuatu yang disenangi penduduk karena menjadi bangsa Romawi memang membanggakan. Dan karena menjadi warga negara Romawi, mereka juga berhak sama dengan warga Roma pada umumnya dalam berdemokrasi.
Yang menjadi catatan penting sejarah dalam hal ini adalah tidak adanya inisiatif Romawi untuk mengembangkan kelembagaan-kelembagaan demokrasi sesuai dengan kapasitas wilayahnya yang sangat luas. 
           Demokrasi tetap dijalankan di Roma. Tidak dipikirkan bahwa Kota Roma adalah tempat yang sangat jauh untuk dikunjungi kalau hanya untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Hingga kini memang sejarah Romawi masih memendam pertanyaan mendalam, mengapakah orang-orang Romawi yang kreatif itu, saat itu tidak kreatif memikirkan cara berdemokrasi dengan sistem perwakilan dan dengan wakil-wakil yang bisa dipilih secara demokratis?
Umur Romawi jelas lebih panjang dari umur Athena. Tetapi akibat kerusuhan sosial, militerisme dan korupsi, Republik Romawi hancur di bawah kediktatoran Julius Caesar. Republik yang awalnya diperintah oleh publik, akhirnya justru dikuasai oleh para kaisar.
Sementara di Eropa Utara pada tahun 600 M sampai 1000 M juga ditemukan artefak-artefak yang menunjukkan bahwa pemerintahan oleh rakyat dilakukan. Di Swiss, Skandinavia dan tempat-tempat lain di utara Laut Tengah beberapa ornamen demokrasi memperkuat cerita sejarah tentang bagaimana partisipasi rakyat dilakukan.
         Sejarah demokrasi lain bisa kita temukan dengan membaca sejarah Italia. Pemerintahan dengan semangat demokrasi di Italia muncul pada 1100 Masehi. Seolah-olah pemerintahan Italia masa itu adalah reinkarnasi dari Republik Roma yang sudah hancur ribuan tahun silam. Praktik demokrasinya khas Roma. Mula-mula yang diizinkan untuk berpartisipasi pada pemerintahan adalah kalangan borjuis dan bangsawan. Setelah melalui berbagai tuntutan, publik luas juga mendapat porsi untuk berpartisipasi. Mereka terdiri dari anggota kelas yang populer saat ini dengan sebutan kelas menengah.

 

Kamis, 14 Januari 2016

Pidana Tentang pencucian uang

Putusan tentang pencucian uang 
Pidana


Putusan

Putusan PN BANDUNG Nomor 24/Pid.Sus-TPK/2015/PN.Bdg. Tahun 2015
DJUDJUN MARDJUANA bin MARTA SASMITA;
Nomor 24/Pid.Sus-TPK/2015/PN.Bdg.
Tingkat Proses Pertama
Tanggal Register 23-01-2015
Tahun Register 2015
Jenis Perkara Pidana Khusus
Klasifikasi Pidana Khusus
Sub Klasifikasi Pencucian Uang
Jenis Lembaga Peradilan PN
Lembaga Peradilan PN BANDUNG
Para Pihak DJUDJUN MARDJUANA bin MARTA SASMITA;
Tahun 2015
Tanggal Musyawarah 04-06-2015
Tanggal Dibacakan 15-06-2015
Amar Hukum
Catatan Amar -Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 8 (delapan) bulan denda sejumlah Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan
Hakim Majelis
Hakim Ketua BERTON SIHOTANG, SH.MH.,
Hakim Anggota -JANVERSON SINAGA, SH.MH., -AGUS YUNIANTO, SH.MH.
Panitera FIRMANSYAH, SH
Yurisprudensi Tidak
Status Tahanan Ya
Berkekuatan Hukum Tetap Tidak





Kasus ECW Neloe

                                                                 Kasus ECW Neleo
http://i2.wp.com/www.okeebos.com/wp-content/uploads/2015/05/ECW-Neloe.gif?resize=660%2C330
          Mantan Direktur Utama Bank Mandiri Edward Cornellis William Neloe, Jumat (14/9) malam, ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta. Bersama Neloe, dua mantan Direktur Bank Mandiri lainnya yang diadili dalam satu berkas perkara yang sama, yakni I Wayan Pugeg dan M Sholeh Tasripan, juga ditahan di LP Cipinang.
         Majelis kasasi Mahkamah Agung yang diketuai Ketua MA Bagir Manan pada sidang hari Kamis (13/9), mengabulkan permohonan kasasi jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Majelis menyatakan Neloe, Pugeg, dan Tasripan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut. Masing-masing dipidana penjara 10 tahun dan denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.
         Putusan MA itu sangat melegakan Kejaksaan, sebagaimana disampaikan Jaksa Agung Hendarman Supandji melalui pesan layanan singkat/SMS kepada Kompas.
Dengan putusan itu, konstruksi hukum kejaksaan bahwa perbuatan bankir yang salah dalam pengucuran kredit dan menimbulkan masalah dalam pengembalian dapat dikenakan hukuman dalam tindak pidana korupsi. "Semua argumentasi jaksa dikuatkan MA. Keputusan MA itu akan dijadikan pegangan oleh kejaksaan dalam mengusut terus kasus-kasus korupsi serupa," tulis Hendarman.
           Neloe, Pugeg, dan Tasripan didakwa melakukan perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, dalam pemberian kredit Bank Mandiri kepada PT Cipta Graha Nusantara. Menurut jaksa, perbuatan itu merugikan negara 18,5 juta dollar AS atau setidaknya Rp 160 miliar.
           Majelis hakim PN Jakarta Selatan yang diketuai Gatot Suharnoto menjatuhkan vonis bebas kepada Neloe, Pugeg, dan Tasripan, 20 Februari 2006.

Kasus rohmin dahuri

 

                                                                    Kasus Rokhmin Dahuri
         
Jakarta (ANTARA News) - Rohmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, divonis tujuh tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus dana non-bujeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). "Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata Ketua Majelis Hakim, Mansyurdin Chaniago, dalam sidang pembacaan putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin. Putusan itu lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang hanya menuntut enam tahun penjara. 
        Mansyurdin menyatakan, Rokhmin juga dibebani denda sebesar Rp200 juta atau hukuman penjara (subsidair) enam bulan. Selain itu, Majelis Hakim juga menyatakan sejumlah barang bukti dalam bentuk uang sekira Rp43 juta, Rp13 juta, Rp567 juta, dan Rp200 juta, tanah beserta sertifikatnya, serta satu mobil merek Toyota Camry diserahkan kepada negara. Kemudian, majelis hakim juga memvonis, barang bukti lain dalam bentuk lukisan diserahkan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Rokhmin juga wajib menanggung biaya perkara senilai Rp10.000. 
          Namun demikian, dalam putusan itu terdapat pendapat berbeda dari dua hakim. Pendapat berbeda itu menyatakan, Rokhmin Dahuri tidak terbukti melakukan pamaksaan dalam pelaksaanaan kebijakan pengumpulan dana non-bujeter DKP. Menanggapi putusan tersebut, Rokhmin yang ditemui setelah sidang langsung menyatakan banding. "Akan mengajukan banding sampai tingkat kasasi," kata Rokhmin. Menurut dia, seharunya hakim tidak menjatuhkan vonis lebih berat dari tuntutan jaksa karena terdapat pendapat berbeda dari hakim yang lain. 
        Selain itu, kata Rokhmin, perkara tersebut lebih merupakan kesalahan teknis birokrasi, bukan kesalahan seseorang. Sesaat setelah hakim membacakan putusan, puteri Rokhmin Dahuri, Nia, jatuh pingsan. Keluarga dan sejumlah pengunjung sidang langsung memberikan pertolongan kepada Nia. Sementara itu, sejumlah pendukung Rokhmin Dahuri meluapkan kekesalan atas putusan hakim tersebut dengan berteriak dan merusak pembatas ruang sidang, dan kondisi ruang sidang menjadi tidak terkendali, serta sejumlah perlengkapan ruang sidang mengalami kerusakan, sehingga petugas kepolisian segera mengamankan majelis hakim dan JPU.

Kasus Sayyid Agil Munawar

                                                 Kasus Terlibat nya Sayyid Aggil Munawar 
Hasil gambar untuk sayyid agil al munawar

         Penyidik Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor), kepolisian, dan kejaksaan diminta tidak terpancing dengan pernyataan pengacara mantan Menteri Agama (Menag) Said Agil Husin Al Munawwar, Ayuk S Shahab, yang menyatakan Dana Abadi Umat (DAU) juga dinikmati para pejabat. Pernyataan Ayuk dinilai anggota DPR RI Machfud MD merupakan pengalihan dugaan kasus pidana menjadi kasus perdata. "Jangan terpancing, Timtas Tipikor harus usut itu," tegas Machfud di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (22/6/2005). Menurutnya, kasus dugaan korupsi DAU harus dibawa pada penyelewengan dana-dana fiktif, penunjukan rekanan gelap, mark up harga katering, pengeluaran ganda, dan jabatan yang berlipat-lipat. 
           Soal jabatan ganda, Machfud menggambarkan, sudah tidak aneh lagi kalau ada pejabat Departemen Agama (Depag) yang memegang tujuh posisi penting dalam beberapa tim. Padahal, dari setiap tim, pejabat itu mendapatkan gaji. Karena itu, menurut dia, Timtas Tipikor harus fokus pada masalah-masalah tersebut, bukan kemudian melebar dengan mengusut orang-orang yang pernah menikmati DAU lewat perjalanan ibadah haji secara gratis. 
          Dia juga menyatakan, DAU memang bisa dinikmati sejumlah kalangan. Hal ini sesuai dengan Perpres 22/2001 yang dibuat pada era pemerintahan Gus Dur. Perpres itu memberikan kewenangan DAU untuk penyelenggaraan ibadah haji, pendidikan, pembangunan tempat ibadah, dan kegiatan sosial lainnya. Karenanya Machfud mengimbau institusi seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah agar tidak takut jika diungkit telah menerima DAU, termasuk pejabat-pejabat. "Meski itu tidak baik. Itu bukan tindak pidana," katanya.